Laman

advertisement

link

Senin, 29 Desember 2008

Sampah alternatif mata pencaharian buat melangsungkan hidup

Lingkungan bersih dan sehat merupakan hal yang senantiasa diinginkan oleh segenap makhluk yang tinggal dan menetap dimuka bumi ini. Jika ditanya adakah orang yang mau untuk tinggal dan menetap dilokasi pemukiman yang jorok dan tidak bersih, pastilah jawabannya tidak, sebab tidak seorangpun menginginkannya Namun bagaimana hal tersebut jika terjadi adakah penolakan? Kesulitan dan himpitan ekonomi mengharuskan segelintir orang untuk bisa beradaptasi untuk berkompetisi dalam mempertahankan hidup. Salah satu fakta yang dapat dilihat adalah tat kala memandang gunungan sampah yang berlokasi disekitar wilayah perkuburan etnis Tionghoa di Delitua.

Pemandangan yang terbesit saat pertama kali menyaksikan lokasi ini tentulah akan berbeda dengan memandang lokasi lahan pemakaman yang ada pada umumnya. Pemakaman etnis tionghoa yang berada disepanjang lokasi TPA Jl.Istiqlal dalam Delitua, sepertinya sudah mendapat kekhasan dengan adanya aroma yang tidak sedap untuk dihirup.


Aroma yang tidak sedap dihirup tersebut bukan berasal dari areal pemakaman selayaknya yang sering dikisahkan di film-film horror, melainkan berasal dari tumpukan sampah yang berada disekitar wilayah tersebut. Tumpukan sampah yang dari hari kehari semakin meninggi dan menimbun layaknya perbukitan. Tidak ada informasi pasti sejak kapan lokasi ini menjadi tempat pembuangan sampah, namun dari beberapa informasi yang didapat menyatakan bahwa areal yang digunakan untuk tempat pembuangan sampah adalah bukan milik daripada yayasan pengelola perkuburan china ataupun milik daripada Pemko Medan melainkan lahan tersebut adalah milik pribadi yang kondisi pada mulanya adalah sebagai daerah jurang.
Sudah bukan hal yang aneh bila perbukitan sampah yang ada tersebut enjadi salah satu alternatif dalam mengais rezeki demi mempertahankan hidup. Dalam tumpukan sampah yang menggunung dan bau yang menyertainya telah menciptakan sebuah simbiosis mutualisme dimana satu dan hal yang lainnya saling berkaitan. Adanya sampah dengan beragam jenisnya mengundang orang untuk berhimpun memilah dan kemudian menjualnya kepada penampung khusus barang-barang bekas, atau yang disebut dengan istilah pemulung.

kendati jorok dan berbau mereka tidak segan-segan untuk melebur dengan tumpukkan sampah yang ada baginya mereka selagi ada sampah berarti untuk kelanjutan hidup esok harinya masih terjamin. Mereka tidak mempermasalahkan keadaan yang jorok sekalipun hal tersebut dapat membahayakan kesehatan mereka. Bahkan yang ironisnya dalam berpenghasilan sebagai pemulung tidak sedikit yang melibatkan seluruh anggota keluarganya, mulai dari ibu hingga ke anak-anaknya bahkan yang masih dalam kategori balita turut ikut nimbrung dalam rutinitas orang tua mereka. Bahkan yang lebh seru masih ditempat yang sama yakni diseberang perbukitan sampah tersebut, terlihat beberapa anak-anak dengan riangnya berenang digenangan kolam yang notabene bukan kolam renang melainkan kolam yang menggenang dikarenakan guyuran air hujan. Anak-anak tersebut berenang dan menyelam seakan mereka berenang dikolam renang yang jernih. Kendati air yang mereka renangi keruh mereka asyik layaknya dunia anak yang memang membutuhkan lahan permainan walau itu terkesan bisa mengakibatkan mereka terserang penyakit.


Walau sampah adalah permasalahan yang tak unjung selesai untuk dicarkan solusinya namun sampah adalah bukan hal yang begitu menyeramkan, sebab selagi ada manusia maka sampah akan terus ada. Mendaur ulang dan memilah sampah mungkin adalah salah satu hal yang bisa dijadikan solusi. Dan juga sejatinya demi lingkungan yang bersih dan demi kelangsungan hidup orang banyak mari saling peduli dan bekerjasama untuk menciptakan lingkungan sehat berih dan jauh dari penyakit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar dan saran ditunggu dari yang hanya singgah atau membaca